Laras

“Eh, gue sekilas melihat seperti ada orang di jendela rumah tua itu tadi?”, Agung berkata.

“Salah lihat kali lu Gung, bisa jadi itu hordeng ketiup angin”, jawab Andi sembari memperhatikan Abang nasi goreng yang sedang memasak.

“Serius gue, tadi beneran ada seperti lagi ngeliatin kita gitu. Bang-bang ada tau isu-isu tentang rumah itu ngga?”, tanya Agung penasaran.

Jawab Abang nasi goreng, “Saya kurang tau de isu-isunya walau saya sudah lumayan lama mangkal di tempat ini. Nasi gorengnya ade Agung mau dibikin pedes atau sedeng?”

“Sedeng aja bang, kalo terlalu pedes jadi kurang nyaman disantapnya”, sahut Agung.

Sembari menunggu nasi goreng. Agung dan Andi duduk bersebelahan dan memperhatikan rumah tersebut dengan seksama. Memperhatikan dengan detil dari kejauhan. Agung juga memberitahu Andi, titik di mana ia melihat orang yang dia katakan tadi.

“Di, gue tadi lihatnya di titik jendela lantai 2 sebelah kiri, paham ga lokasi yang gue maksud ini?” sembari menunjukan jari telunjuk ke arah jendela tersebut.

“Paham gue Gung, yang di situ kan yang ada putih-putihnya di jendela itu sebelah kiri dari lantai 2?” jelas Andi.

“Hah, putih-putih? Putih-putih dari Hongkong, salah lihat kali lu”, sahut Agung sembari kebingungan dengan jawaban Andi.

“Iya bener weh, di jendelanya yang ada putih-putih itu kan yang lu maksud tadi. Tapi kok sekarang gue lihat udah ngga ada ya putih-putihnya gitu”, jawab Andi dengan kebingungan.

“Jangan-jangan…..”, respon Agung.

Belum saja selesai berkata, Abang nasi goreng menyela dengan perkataan.

“Sudah selesai de nasi gorengnya totalnya 26 ribu”, kata Abang nasi goreng.

Mereka pun membayar nasi goreng dan segera menuju ke rumah Agung untuk menyantap nasi goreng yang dibelinya. Kebetulan, Andi sedang menginap di rumah Agung malam itu.

Dengan cepat Andi dan Agung menjalankan motornya karena mengingat sudah tengah malam dan ingin segera menyantap nasi gorengnya bersama Andi. Namun, sesampainya di depan rumah, ia bingung karena Andi yang seharusnya ada mengikuti di belakang konvoi malah tidak ada. Agung pun kembali ke tempat Abang nasi goreng tadi untuk mencari Andi.

Sesampainya di sana, terlihat sosok Abang nasi goreng yang sedang berdiri sembari menatap jendela lantai dua sebelah kiri rumah tua tersebut. Agung bertanya ke Abang nasi goreng tersebut.

“Bang, lihat teman saya ngga yang tadi beli nasi goreng bareng?”, tanya Agung.

Abang nasi goreng pun menjawab dengan senyuman manis dan menunjuk ke arah jendela, “tuh ada di sana. Itu bukan hordeng, itu Laras?”

One thought on “Laras

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s